Kegiatan di sekolah bisa menjadi salah satu topik untuk meningkatkan komunikasi orangtua dengan anak. orangtua menjadi tahu apa yang dikerjakan anaknya selama di sekolah, berdasarkan cerita si anak. sebaliknya anak pun terpacu untuk lebih aktif di sekolah. anak akan merasa bangga bisa bercerita panjang lebar kepada orangtuanya.


orangtua pun kemudian bisa memahami apa yang disukai dan tidak disukai anaknya, atau kekurangan dan kelebihannya. diskusi ringan tentang suasana kelas anak, misalnya, bukan hanya membuahkan keakraban tetapi juga mempunyai pengaruh positif terhadap pendidikan anak. (Chris Pudjiastuti)






Beberapa orang tua terpaksa meninggalkan anak sendirian di rumah. Hal ini sering terjadi kota-kota besar terutama bagi ke dua orang tua yang memiliki pekerjaan. Demi alasan ekonomi, orangtua dengan rasa berat terpaksa meninggalkan anak tanpa pengawasan orang dewasa di rumah?



meski jumlahnya tak banyak, beberapa orangtua di kota-kota besar diketahui terpaksa melakukan hal seperti itu. itu sebabnya, muncul tempat-tempat penitipan anak. lebih dari itu, di negara tertentu sudah ada hukum yang mengatur usia minimal anak yang bisa ditinggalkan di rumah tanpa pengawasan orang dewasa.


1. persiapan
sulit menentukan berapa usia minimal anak bisa ditinggalkan di rumah sendirian. untuk ukuran kota besar, barangkali usia kelas satu SMP bisa dipakai sebagai pegangan. anak usia 12 atau 13 tahun diasumsikan sudah mempunyai nalar yang cukup untuk menjaga keselamatan mereka serta juga bisa diharapkan untuk mandiri. semakin muda usia anak, sebenarnya semakin besar buat anak ditinggal orangtuanya sebab secara alamiah banyak anak kecil mempunyai banyak ketakutan yang irasional. banyak anak yang takut pada monster, pada hantu, sementara anak yang lain takut pada orang jahat. anak-anak atau remaja umumnya lebih merasa aman setelah ayah-ibunya kembali.
di sisi lain, kalau anak terus dibiarkan sendirian, ada dampak kehilangan yang bisa terjadi. yang paling mungkin adalah kehilangan teman ngobrol serta ketiadaan umpan balik dari orang yang lebih dewasa. pada ana tunggal, kemungkinan mengalami rasa kesepian makin besar. dampaknya bisa membuat mereka menjadi orang yang sangat membutuhkan orang lain sehingga tampak ingin selalu menarik perhatian. atau sebaliknya, anak merasa tak lagi membutuhkan orang lain dan justru merasa terganggu kalau ada orang lain karena mau tidak mau harus selalu toleran.


2. jangan merasa bersalah
kalaupun terpaksa harus meninggalkan anak di rumah, orangtua untuk mempersiapkan segala sesuatunya sejak awal. masalah keselamatan merupakan prioritas yang tidak boleh diabaikan. catat nomor-nomor telepon penting yang bisa dihubungi jika memerlukan bantuan. peringatkan, apa-apa saja yang sebaiknya tidak boleh dilakukan seperti menyalakan kompor, mengutak-atik listrik, dan hal lain yang potensial berbahaya.


selama anak ditinggalkan, orangtua sebaiknya juga menyiapkan sejumlah konstruktif agar anak terus menyibukkan diri sehingga dia tidak merasa sepi. yang paling mudah adalah memberikan pekerjaan rumah serta meminta anak untuk mengerjakan tugas sehari-hari.

Ketahui apa yang perlu dilakukan
Saya pernah mendengar bagaimana orang Jepang mewariskan cerita tentang bencana tsunami secara turun-menurun pada anak-anaknya. Pelatihan mengenai bencana juga kerap dilakukan di sekolah dan kantor. Kita bisa meniru kesiapan mereka dengan cara-cara berikut ini.



- Membuka diskusi tentang bencana dengan anak
Ceritakan pada anak tentang tanah yang bergoyang karena gempa, atau ombak yang menggulung tinggi saat terjadi tsunami. Ceritakan juga bahwa binatang sangat peka dan bisa merasakan bencana alam sebelum terjadi. Ada kemungkinan cerita tentang bencana dapat membuat anak merasa tidak nyaman atau bahkan takut. Maka, gunakanlah cara yang menyenangkan dan mudah diingat anak seperti lewat dongeng atau role play. Tak hanya itu, dengan buku cerita bergambar atau bermain, kita bisa menjelaskan pada anak apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana.

- Ajak anak mengenal situasi di sekitar rumah dan sekolah
Saat menyusun jalur evakuasi di dalam rumah, anak perlu mengenali dengan baik kondisi rumah. Mengenali lingkungan sekitar juga penting sehingga saat terjadi bencana, anak dapat lebih waspada dan tahu bagaimana bertindak. Ajak anak-anak berjalan di sekitar rumah untuk tahu di mana ada bangunan, tiang listrik, saluran got, pohon-pohon tinggi, atau sungai, serta bagaimana kontur wilayah sekitar.

- Safety steps
Mommies mungkin pernah melihat tayangan iklan kesiapan bencana di televisi? Langkah-langkah keselamatan juga penting untuk diajarkan pada anak, terutama jika ia sedang berada di sekolah atau tempat umum ketika bencana terjadi. Ajak anak untuk mengingat dan berlatih langkah-langkah ini secara teratur. Seperti halnya menceritakan bencana pada anak, safety stepsjuga dapat dikenalkan lewat cara menyenangkan seperti dengan komik, games, atau coloring book.

Safety steps saat terjadi gempa, kebakaran, dan banjir dapat diajarkan pada anak dengan cara yang simpel. Simak apa saja safety steps tersebut pada artikel Keluarga Siaga Bencana berikutnya, ya, Mommies!
Keluarga Siaga merupakan gambaran masyarakat kecil yang sadar dan mau serta mampu untuk mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan, bencana, kecelakaan, dan lain-lain, dengan memanfaatkan potensi yang ada di dalam lingkungan keluarga.

Pengembangan Keluarga Siaga mencakup upaya untuk lebih mendekatkan anggota keluarga terhadap kesiapan sumberdaya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah- masalah kesehatan, bencana dan kecelakan, secara mandiri.



Keluarga Siaga


Upaya Keluarga Siaga untuk menciptakan Lingkungan Sehat bebas polusi, tersedia air bersih, sanitasi lingkungan memadai, perumahan pemukiman sehat, yaitu :
  • Terpeliharanya kebersihan lingkungan rumah : lantai rumah bersih, sampah tak berserakan, saluran pembuangan air limbah terawat baik
  • Membuka jendela setiap hari.
  • Memiliki kecukupan akses air bersih (untuk minum, masak, mandi dan cuci) dan sanitasi dasar.

Upaya Keluarga Siaga terhadap Kesiapsiagaan bencana dan Kegawatdaruratan dalam menghadapai situasi kedaruratan (misal bencana)
  • Anggota keluarga sudah dipersiapkan apabila terjadi situasi darurat maka : mereka tahu harus berbuat apa, mereka tahu tempat untuk mencari maupun memberi informasi kemana.
  • Anggota keluarga diharapkan memperhatikan gejala alam pada lingkungan setempat mampu mengenali tanda akan timbulnya bencana dan selanjutnya melakukan kegiatan tanggap darurat. Informasi mengenai tanda tanda bahaya tersebut berasal dari sumber yang bisa dipercaya, misalnya dari perangkat kelurahan ( yang memperolehnya dari kecamatan ), berita resmi di TV , Radio atau telepon dari Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota. Penyebaran informasi mengikuti tatacara setempat, misalnya menggunakan kentongan, pengeras suara dari musholla atau dari mulut ke mulut
Beberapa orang tua terpaksa meninggalkan anak sendirian di rumah. Hal ini sering terjadi kota-kota besar terutama bagi ke dua orang tua yang memiliki pekerjaan. Demi alasan ekonomi, orangtua dengan rasa berat terpaksa meninggalkan anak tanpa pengawasan orang dewasa di rumah?

Meninggalkan Anak Sendirian di Rumah


Meski jumlahnya tak banyak, beberapa orangtua di kota-kota besar diketahui terpaksa melakukan hal seperti itu. itu sebabnya, muncul tempat-tempat penitipan anak. Lebih dari itu, di negara tertentu sudah ada hukum yang mengatur usia minimal anak yang bisa ditinggalkan di rumah tanpa pengawasan orang dewasa.

1. Persiapan

Sulit menentukan berapa usia minimal anak bisa ditinggalkan di rumah sendirian. untuk ukuran kota besar, barangkali usia kelas satu SMP bisa dipakai sebagai pegangan. Anak usia 12 atau 13 tahun diasumsikan sudah mempunyai nalar yang cukup untuk menjaga keselamatan mereka serta juga bisa diharapkan untuk mandiri. Semakin muda usia anak, sebenarnya semakin besar buat anak ditinggal orangtuanya sebab secara alamiah banyak anak kecil mempunyai banyak ketakutan yang irasional. Banyak anak yang takut pada monster, pada hantu, sementara anak yang lain takut pada orang jahat. anak-anak atau remaja umumnya lebih merasa aman setelah ayah-ibunya kembali.

Di sisi lain, kalau anak terus dibiarkan sendirian, ada dampak kehilangan yang bisa terjadi. Yang paling mungkin adalah kehilangan teman ngobrol serta ketiadaan umpan balik dari orang yang lebih dewasa. pada ana tunggal, kemungkinan mengalami rasa kesepian makin besar. Dampaknya bisa membuat mereka menjadi orang yang sangat membutuhkan orang lain sehingga tampak ingin selalu menarik perhatian. Atau sebaliknya, anak merasa tak lagi membutuhkan orang lain dan justru merasa terganggu kalau ada orang lain karena mau tidak mau harus selalu toleran.

2. Jangan merasa bersalah

Kalaupun terpaksa harus meninggalkan anak di rumah, orangtua untuk mempersiapkan segala sesuatunya sejak awal. masalah keselamatan merupakan prioritas yang tidak boleh diabaikan. Catat nomor-nomor telepon penting yang bisa dihubungi jika memerlukan bantuan. peringatkan, apa-apa saja yang sebaiknya tidak boleh dilakukan seperti menyalakan kompor, mengutak-atik listrik, dan hal lain yang potensial berbahaya.

Selama anak ditinggalkan, orangtua sebaiknya juga menyiapkan sejumlah konstruktif agar anak terus menyibukkan diri sehingga dia tidak merasa sepi. Yang paling mudah adalah memberikan pekerjaan rumah serta meminta anak untuk mengerjakan tugas sehari-hari.